Buah Simalakama Menteri Pendidikan Terkait Kebijakan Sekolah Online

Buah Simalakama Menteri Pendidikan Terkait Kebijakan Sekolah Online

Buah simalakama Menteri Pendidikan agaknya sedang menimpa beliau terkait kebijakan daruratnya mewajibkan sekolah online kala pandemi menyebar. Mantan CEO aplikasi Gojek ini mengutarakan perasaannya kini sedang dalam situasi terjepit, sebab apapun keputusan yang ia ambil pasti akan berakhir pada kondisi di mana publik akan menyalahkan dirinya.

Infrastruktur pendidikan sedang berada pada titik terendahnya karena negara berkembang seperti Indonesia pastinya masih mengandalkan sistem pembelajaran tatap muka. Nadiem pun tidak tinggal diam dan mengaku bahwa ia juga saat ini sedang memikirkan bagaimana caranya agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali seperti dahulu kala.

Buah Simalakama Menteri Pendidikan Terkait Kebijakan Sekolah Online

Semua curahan isi hatinya telah ia keluarkan pada sebuah sesi webinar bertajuk Sistem Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19 beberapa waktu silam. Acara tersebut merupakan hasil kolaborasi Dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama DPD Taruna Merah Putih pada wilayah Jawa Tengah tanggal 30 Agustus 2020 silam.

Nadiem berusaha merangkul berbagai pihak dari hulu ke hilir, mulai dari orang besar seperti Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Hadir pula Walikota Semarang Hendrar Prihadi, berikut Ketum DPP Taruna Merah Putih yaitu Maruarar Sirait sebagai perwakilan daripada organisasi masing – masing.

Buah Simalakama Menteri Pendidikan Mantan Bos Gojek Menghadapi Pandemi

Menariknya, Nadiem Makarim juga membuka diri agar para guru, orangtua murid, hingga siswa sekolahan pun boleh ikut serta dalam rapat daring ini. Ia tidak lama berbasa – basi dan langsung ke inti perkara, yaitu keinginannya untuk secepat mungkin menyudahi Pembelajaran Jarak Jauh karena sangat menyulitkan para murid dalam menimba ilmu.

Pada kesempatan emas itu, Nadiem menjelaskan kondisi buah simalakama Menteri Pendidikan karena menerima banyak perlawanan dari masyarakat terkait kebijakan PJJ. Ia pun mengangguk tanda setuju, karena dirinya sendiri pun berpendapat bahwa PJJ sama sekali bukan cara ideal untuk belajar secara resmi karena memiliki segudang keterbatasan.

Buah Simalakama Menteri Pendidikan Mantan Bos Gojek Menghadapi Pandemi

Situasi ini bukan hanya dialami oleh negara berkembang seperti Indonesia, melainkan sejumlah negara maju pun kewalahan menghadapinya. Semenjak diberlakukannya sekolah daring, banyak anak murid yang mengalami tekanan psikologis, membebani orangtua, hingga lambatnya proses adaptasi oleh para tenaga pendidik menyangkut kurikulum online.

Nadiem Makarim juga bukannya menutup mata mengenai berita memilukan bahwa banyak anak sekolahan terbentur biaya kuota untuk video call. Pasalnya, infrastruktur jaringan internet yang masih kacau balau menyebabkan kesenjangan penyerapan pendidikan khususnya di daerah terpencil dan luar Pulau Jawa.

Solusi Sementara Mengalihkan Dana BOS Untuk Belanja Kuota

Sebenarnya anak-anak di negara kita sama sekali tidak bermasalah dengan metode PJJ dari segi penggunaan gadget. Pasalnya, menurut hasil survei justru menyatakan bahwa pelajar Indonesia melek teknologi tertinggi sedunia sehingga pastinya sangat piawai mengutak-atik perangkat digital.

Bagi Nadiem Makarim, buah simalakama Menteri Pendidikan justru datang dari para guru karena mereka kebanyakan belum berpengalaman dalam hal mengajar secara daring dan masih nyaman menggunakan metode offline. Perlu dicatat juga, tidak semua orangtua murid mampu membelikan anaknya gadget karena memiliki keterbatasan dana, apalagi spesifikasi untuk bisa menunjang video call secara lancar dan stabil harganya cukup mahal.

Solusi Sementara Mengalihkan Dana BOS Buah Simalakama Menteri Pendidikan

Oleh sebab itu, Nadiem akhirnya mengalah dan membuka lumbung yang selama ini tersimpan rapi bernama Bantuan Operasional Sekolah alias BOS. Ia mempersilahkan orangtua murid mewakili siswa untuk mengambil dana tersebut supaya dapat membeli entah smartphone, tablet, atau bahkan laptop dengan sistem pinjaman berbasis koperasi ke anak-anak.

Nadiem melanjutkan, ia sama sekali tidak keberatan membuka dana simpanan Kementerian Pendidikan, toh memang ini demi kelancaran KBM daring. Kemendikbud terlaporkan punya anggaran 700 miliar rupiah karena memang sudah menyiapkan rencana untuk program sekolah melek online, namun apa daya pandemi covid lebih dulu menyerang.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *